Punya keinginan untuk travelling nggak ? Entah sekedar menyebrang ke pulau sebelah dengan kapal feri buat yang doyan perjalanan darat sambung laut, terbang ke negeri seberang yang tiket pulang-perginya bisa didapat dibawah 500ribu, atau sekedar ikut jadwal travel agent untuk keliling Eropa selama sepuluh hari penuh ? Agak aneh juga kalau ada orang yang nggak pernah ingin untuk melihat dunia diluar lingkup jarak mata selama ini. Sejauh ini sih saya belum menemukan teman yang bilang nggak saat diajak berencana melancong ke suatu tempat. Walupun akhirnya banyak batalnya, dengan alasan yang seabrek, seenggaknya masih ada kalimat penghiburan "masih ada libur semester depan kan" (kalimat yang kemudian akan terulang di liburan semester depan).
Kalau diingat-ingat, ada beberapa alasan yang kemudian menjadi rentetan alasan batalnya rencana jalan-jalan (jalan-jalan disini bukan jalan-jalan di mal, wahai kalian manusia doyan mal). Dimulai dari alasan umum seperti nggak turun izin dari orangtua, jadwal yang nggak tepat, nggak ada uang, dan cuaca yang nggak mendukung hingga kendala-kendala klasik seperti transportasi yang nggak jelas sampai akses yang nggak akses sama sekali. Sebenanya hal-hal diatas saling berkaitan sih. Saya contohnya, nggak akan dapat izin pergi kalau transportasi nya nggak jelas. Apalagi kalau akomodasi nya model nanti-nanti, wah relakan lah liburan stay di rumah. Jadinya saya kepikiran, traveling yang 'baik' di mata orang-orang itu gimana ? Model backpacker-an ? Turis-an ?
Pemahaman manusia akan traveling yang ideal tentu tidak akan pernah sama, menurut saya. Bagi beberapa orang menerima rundown kegiatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang mainstream akan jauh lebih menyenangkan daripada harus luntang-luntung di jalan berbekal google map untuk sekedar mencari sesuatu hal unik diluar apa yang ada di buku panduan lonely planet. Kalau menurut pandangan saya, esensi traveling seharusnya berbanding lurus dengan tujuan awalnya. Ingin traveling yang seperti apa ?
Lingkup pertemanan saya yang terdiri dari beragam otak akhirnya menghasilkan berbagai pandangan akan tujuan mereka jalan-jalan. Geng pertama adalah sekumpulan lelaki yang menyisakan saya dan *i sebagai wanita. Memiliki panggilan resmi geng pojok - karena letak bangku yang selalu terpojok di kelas, lebih memilih mencangklong carrier dengan bekal (materi maupun non-materi) seadanya selama traveling. Mereka yang lebih memilih menumpang truk penduduk untuk mencapai Kawah Ijen ataupun mengendarai sepeda motor bebek untuk menuju penanjakan di Bromo, adalah sekumpulan manusia yang memandang traveling sebagai sesuatu yang harus penuh kejutan dan spontanitas. Jeleknya, saking spontannya mereka, saya dan *i sering ketinggalan karena faktor orangtua yang masih khawatir sama anak perempuannya. Beda lagi dengan geng, err anggap saja geng chibi-chibi, dimana rata-rata terdiri dari wanita dan doyan ngemall (ups) - adalah mereka yang mengutamakan 'kejelasan' saat bepergian. "Naik apa kesana ? Berapa hari ? Tidur dimana ? Kemana aja ? Pulang malam atau pagi?", adalah pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan ditemui setiap usulan traveling terlontar. Jadi kira-kira traveling itu adalah sesuatu yang harus dinikmati tanpa perlu ribet-ribet lagi di tempat tujuan. Yang paling baru adalah model traveling arsitektur bersama teman-teman jurusan. Pinginnya melihat semua bangunan yang sejauh ini cuma bisa dilihat di internet. Hebatnya tanpa melihat langsung, kita sudah mengetahui seluk-beluk beberapa bangunan secara rinci - walaupun ada campur tangan tugas didalamnya.
Nggak ada yang benar maupun salah dari pandangan teman-teman saya diatas. Sama seperti disaat disuruh milih faber castel ataupun staedtler saat disuruh bawa pensil 2b. Seperti yang sudah saya tulis tadi,ayo ingat lagi tujuannya. Percuma kalau sudah buang-buang uang, tenaga, dan waktu kalau ternyata traveling yang dilakukan nggak memberi impact ke diri sendiri. Apalagi kalau traveling cuma buat keren-kerenan update status di path (ehm).
Mumpung libur panjang buat kalian rekan-rekan mahasiswa, kalau sudah ngelontok mendalami seluk-beluk keorganisasian atau hal apapun minggu-minggu ini, jalan-jalan yuk. Lihat bumi dimana kita berpijak ini lebih luas. Selamat traveling !
Nobody knows this world better - National Geographic Traveler
ps : semoga saya bisa kirim postcard from Bandung ya minggu depan.
Saturday, 22 June 2013
Sunday, 16 June 2013
Kalau diem aja namanya?
Masih tentang acara jurnalistik terkeren, sejauh ini, dengan pembicara tersuper tadi pagi, satu hal yang pingin banget dilakukan - tapi belum dapet sponsor penuh dari penyandang dana terbesar selama duapuluh tahun ini - jalan-jalan sampe kukut !
Menulis perjalanan, berarti juga menulis kehidupan. Dari perjalanan kita belajar. Belajar dunia kita, belajar tentang orang-orang di sekeliling kita, belajar bahwa kehidupan tidak melulu cari-uang-sampai-mati, belajar untuk apa kita hidup.
Suatu hal kecil yang bisa saya lakukan, hanya menambah terus list tempat-tempat non-mainstream (ehem) untuk didatangi suatu hari nanti, untuk belajar banyak dari masa lalu. Bangunan, related to architecture, akan menceritakan secara jujur apa yang cuma bisa saya baca di internet.
Dua tahun lagi untuk sebuah gelar, lalu langkahkan kaki untuk mulai menggoreskan pena merah di list itu.
"Pernah merasa lelah saat duduk bersila, selama satu jam saja ? Hal itu menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk bergerak. Kodrat kita adalah melakukan perjalanan" - mas Agustinus Wibowo.
Menulis perjalanan, berarti juga menulis kehidupan. Dari perjalanan kita belajar. Belajar dunia kita, belajar tentang orang-orang di sekeliling kita, belajar bahwa kehidupan tidak melulu cari-uang-sampai-mati, belajar untuk apa kita hidup.
Suatu hal kecil yang bisa saya lakukan, hanya menambah terus list tempat-tempat non-mainstream (ehem) untuk didatangi suatu hari nanti, untuk belajar banyak dari masa lalu. Bangunan, related to architecture, akan menceritakan secara jujur apa yang cuma bisa saya baca di internet.
Dua tahun lagi untuk sebuah gelar, lalu langkahkan kaki untuk mulai menggoreskan pena merah di list itu.
"Pernah merasa lelah saat duduk bersila, selama satu jam saja ? Hal itu menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk bergerak. Kodrat kita adalah melakukan perjalanan" - mas Agustinus Wibowo.
Kapan mau (bisa) nulis?
"Sayangnya saat ini kebanyakan dari kita adalah manusia mental konsumen, hanya menerima tanpa menghasilkan sesuatu sebagai timbal baliknya"
Jleb. Kata-kata mas Ayos, alumnus despro dan ITS Online, yang pagi tadi menjadi pembicara di IWX (Informatics Writings Experiments) yang diadakan di Teknik Informatika - bener-bener bikin saya keselek ludah sendiri.
Ngerasa pengetahuan banyak, baca sana-sini, selalu ikutan nimbrung di pembicaraan apapun yang (sekedar) tahu tagline-nya, ternyata nggak bikin saya lebih suatu apapun dari mereka. Ibaratnya saya cuma kabel telepon yang transfer pembicaraan dari satu mulut ke kuping orang lain. Yang kerasa banget sih, paginya pak bos di jurnalistik kampus baru ngingetin saya buat setor suatu quotes tentang media. Mirisnya, ngaku-ngaku anak jurnalistik yang serba tahu segala seluk beluk penulisan, tapi nulis pun jarang. Sekalinya nulis, ngerasa banget kalo format tulisannya laporan.
Terus mau kapan bisa nulis ?
Kalau boleh mengutip kata-katanya mas Agustinus Wibowo - yes people, tadi pembicaranya mas Agustinus, our favorite travel writer - "sembilan puluh persen draft adalah sampah"
Maksudnya, setiap orang akan selalu punya garis start untuk menulis. Tulisan awal pasti kebanyakan nggak akan jauh dari format laporan yang dimulai dengan kata-kata Matahari bersinar cerah (ini kata mas Agustinus), yang kemudian akan terus di re-write sampai akhirnya menghasilkan suatu karya yang layak baca. Korelasinya, jangan takut menulis. Semua pasti akan pernah nabrak tembok (ini kata mas Agustinus juga) sampai nanti akhirnya bisa menemukan jalan yang bebas hambatan.
Terus kapan mau nulis ?
Wah, pertanyaan ini jawabannya masih ngambang. Miris juga lihat blog yang nggak ketulis sesuatu apapun (blog lama) selama hampir sebulan. Sekali dibuka, crash semua templatenya. Berasa disindir sama google - jangan memulai sesuatu kalau merasa tidak bisa menyelesaikannya. Jadi proyek-belajar-nulis-yang-dimulai-dengan-ngeblog ini harusnya konsisten sampe nanti di akhir. Kata Mas Ayos, our generation grave will be google. Kalau nggak pernah nulis, apa yang bisa bikin orang percaya kalau kamu pernah berdiri di atas bumi ini ?
Apalagi sudah ditagih sama mas Agustinus di twitter juga :
Jadi, nulis yuk *reminder diri sendiri
Jleb. Kata-kata mas Ayos, alumnus despro dan ITS Online, yang pagi tadi menjadi pembicara di IWX (Informatics Writings Experiments) yang diadakan di Teknik Informatika - bener-bener bikin saya keselek ludah sendiri.
Ngerasa pengetahuan banyak, baca sana-sini, selalu ikutan nimbrung di pembicaraan apapun yang (sekedar) tahu tagline-nya, ternyata nggak bikin saya lebih suatu apapun dari mereka. Ibaratnya saya cuma kabel telepon yang transfer pembicaraan dari satu mulut ke kuping orang lain. Yang kerasa banget sih, paginya pak bos di jurnalistik kampus baru ngingetin saya buat setor suatu quotes tentang media. Mirisnya, ngaku-ngaku anak jurnalistik yang serba tahu segala seluk beluk penulisan, tapi nulis pun jarang. Sekalinya nulis, ngerasa banget kalo format tulisannya laporan.
Terus mau kapan bisa nulis ?
Kalau boleh mengutip kata-katanya mas Agustinus Wibowo - yes people, tadi pembicaranya mas Agustinus, our favorite travel writer - "sembilan puluh persen draft adalah sampah"
Maksudnya, setiap orang akan selalu punya garis start untuk menulis. Tulisan awal pasti kebanyakan nggak akan jauh dari format laporan yang dimulai dengan kata-kata Matahari bersinar cerah (ini kata mas Agustinus), yang kemudian akan terus di re-write sampai akhirnya menghasilkan suatu karya yang layak baca. Korelasinya, jangan takut menulis. Semua pasti akan pernah nabrak tembok (ini kata mas Agustinus juga) sampai nanti akhirnya bisa menemukan jalan yang bebas hambatan.
Terus kapan mau nulis ?
Wah, pertanyaan ini jawabannya masih ngambang. Miris juga lihat blog yang nggak ketulis sesuatu apapun (blog lama) selama hampir sebulan. Sekali dibuka, crash semua templatenya. Berasa disindir sama google - jangan memulai sesuatu kalau merasa tidak bisa menyelesaikannya. Jadi proyek-belajar-nulis-yang-dimulai-dengan-ngeblog ini harusnya konsisten sampe nanti di akhir. Kata Mas Ayos, our generation grave will be google. Kalau nggak pernah nulis, apa yang bisa bikin orang percaya kalau kamu pernah berdiri di atas bumi ini ?
Apalagi sudah ditagih sama mas Agustinus di twitter juga :
Jadi, nulis yuk *reminder diri sendiri
old blog (13) again ?
Perumpamaan hati ialah seperti bulu, yang dibolak-balik angin di padang pasir - Ibnu Majah
Ada yang bilang belum terlambat, ada yang bilang sudah terlambat
Apa itu passion ? Apa itu cita-cita ?
Dimanakah letak impian ?
Can I ask one more time, for a really last time? So God will do the rest.
Ada yang bilang belum terlambat, ada yang bilang sudah terlambat
Apa itu passion ? Apa itu cita-cita ?
Dimanakah letak impian ?
Can I ask one more time, for a really last time? So God will do the rest.
old blog (12) jidat !
Satu setengah tahun (atau satu tahun ?) untuk get ready salah satu beasiswa yang ada di banner di depan ruang dosen.
Bismillah dan Amin !
old blog (11) Coming soon
Hei, saya yang notabene duduk di bangku sekolah arsitektur, ternyata ketinggalan berita. Salah satu bandara tersibuk di negara ini ternyata sedang direncanakan untuk diperluas. Bandara ini tidak lain adalah bandara Soekarno Hatta - Jakarta. Design proposal dari terminal baru di Soekarno Hatta ini bahkan telah masuk di situs Archdaily.com.
Menurut situs ini, terminal baru ini adalah perluasan dari terminal Garuda baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.
Something happening sedang terjadi disini.
Dan ini beberapa gambar rancangan yang ada di Archdaily.com
Situs ini juga menyebutkan bahwa Angkasa Pura 2, selaku klien, menginginkan sebuah desain bandara yang mampu menyampaikan kepada dunia tentang teknologi, politik, dan aspek budaya di Indonesia. Hal ini tentu juga berhubungan dengan pergerakan global yang cepat, sehingga desain bandara yang kontemporer (modern, modern) seperti diataslah yang dianggap sesuai dengan visi klien.
Desain diatas mau dinilai seperti apa, itu terserah anda. Estetika kata dosen saya adalah sesuatu yang subjektif. Sebagian mungkin menilai desain diatas super futuratis, sebagaimana bandara-bandara lain di dunia. Sebagian lainnya mungkin, emm... fill in the blank saja ya jawabannya.
Yang jelas saya nggak bakal membahas masalah desain ataupun konsep ataupun gubahan ataupun keterkaitan tema dengan hasil jadi karena saya sendiri masih cetek ilmunya. Masih mahasiswa.
Rame-rame di milis masalah main gate di kampus sendiri aja cukup dinikmati sebagai silent reader, masakan iya mau komentar desain skala nasional (apa internasional ?) seperti bandara ini ? :)
Satu hal yang saya catat, head architect nya lagi-lagi dari luar. Salah satu firm dari Australia.
Woodhead recently won the commission against three other international design, engineering and contractor teams to be the lead designer of architecture and interiors for the new 380,000m2, 25 million passenger Terminal 3 at Soekarno Hatta International Airport in Jakarta.
Pop ! Sebaris paragraf di bukunya Avianti tiba-tiba muncul :
"Mungkin para arsitek luar ini memang lebih berpengalaman. Tapi ada satu kelemahan yang luput dilihat oleh para klien, yaitu bahwa para desainer luar negeri ini tidak mungkin mengenal konteks tempat dimana bangunan ini akan berdiri sebaik para arsitek lokal yang hidup dan bersinggungan terus-menerus dengannya, segala hal yang terjadi, kendala dan potensi, kejutan dan kemungkinan-kemungkinannya."
Tulisan Avianti diatas, menurut kacamata saya, tentu banyak benarnya. Karena kata orang, tidak ada orang yang mengenal Ibunya sebaik anak-anaknya sendiri. Terlepas dari beberapa selentingan miring mengenai arsitek-arsitek lokal, saya termasuk orang yang kecewa dengan keputusan yang diambil pemerintah dalam hal ini.
Sisi positifnya, kalau memang terminal ini akan benar-benar terbangun sesuai dengan gambar proposal diatas (kata dosen saya, garis bawahi kalau ada embel-embel proyek pemerintah), maka keinginan buat melihat bandara-bandara luar yang mendunia (seperti Changi misalnya) akan jauh lebih mudah dan murah karena kita sudah punya disini :)
old blog (10) Arsitektur itu...
Kata orang, kalau ada kemauan selalu ada jalan.
Kata orang, banyak-banyak doa, pasti suatu hari nyangkut ke Big Boss diatas sana.
Lima tahun yang lalu ada mimpi yang bergantung dua senti - 5cm nya si Donny belum eksis nih - di depan dahi. Jidat.
Bergelantung di depan mata, biar setiap melek kelihatan jelas disana.
Muncul doa-doa yang berkumandang dimana-mana.
Di musholla sekolah, musholla rumah, musholla mall, sampai tempat yang ngakunya musholla tapi gak musholla banget.
Wise Man bilang Tuhan menjawab doa umatnya dengan tiga cara :
a. yes
b. yes, but not now
c. I had a better plan for you
Dua tahun lalu doa itu mental.
Ada yang bilang mental ke opsi kedua, dan sebagian besar bilang jawaban itu jatuh di opsi ketiga.
Saya maunya jatuh di opsi kedua.
Masih ada setahun untuk persiapan lagi, kata saya waktu itu. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Harus ada kesempatan.
Lalu, masuklah dunia baru ini di depan muka saya. Yang awalnya oh-i-don't-care berubah jadi what-the-heck-was-that ?
Ada pencarian disini. Ada tekanan disini. Ada sikut sana-sini. Ada mimpi buruk. Ada pujian. Ada cacian. Ada kekaguman. Ada deadline. Ada ketidakmampuan disini.
Tapi tapi.. sepertinya kata beban nggak pernah ada.
Sebuah keluhan iya, tapi hanya sebatas itu.
Di dalam sini - tunjuk hati - bidang ini seakan sudah nempel dimana-mana sampai nggak bisa pindah ke yang lain.
Terlalu mengalihkan perhatian.
Terlalu banyak pertanyaan yang nggak bakal bisa ditinggalkan mengawang.
Dua bulan yang lalu, tiba-tiba saja datang jawaban dari impian semasa putih abu-abu dulu.
Ya. Sekarang. Langsung masuk. Nggak perlu antri di depan gerbang. Sudah ada kursi di tengah kelas.
Tapi yang di dalam ini menggeleng.
Lebih memilih menjadi si perusak daripada si penyembuh.
Kenapa ?
Kata Rene sih : Your passion is not what you're good at - it is what you enjoy the most
Saya harap saya bisa seyakin itu.
Doakan !
Kata orang, banyak-banyak doa, pasti suatu hari nyangkut ke Big Boss diatas sana.
Lima tahun yang lalu ada mimpi yang bergantung dua senti - 5cm nya si Donny belum eksis nih - di depan dahi. Jidat.
Bergelantung di depan mata, biar setiap melek kelihatan jelas disana.
Muncul doa-doa yang berkumandang dimana-mana.
Di musholla sekolah, musholla rumah, musholla mall, sampai tempat yang ngakunya musholla tapi gak musholla banget.
Wise Man bilang Tuhan menjawab doa umatnya dengan tiga cara :
a. yes
b. yes, but not now
c. I had a better plan for you
Dua tahun lalu doa itu mental.
Ada yang bilang mental ke opsi kedua, dan sebagian besar bilang jawaban itu jatuh di opsi ketiga.
Saya maunya jatuh di opsi kedua.
Masih ada setahun untuk persiapan lagi, kata saya waktu itu. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Harus ada kesempatan.
Lalu, masuklah dunia baru ini di depan muka saya. Yang awalnya oh-i-don't-care berubah jadi what-the-heck-was-that ?
Ada pencarian disini. Ada tekanan disini. Ada sikut sana-sini. Ada mimpi buruk. Ada pujian. Ada cacian. Ada kekaguman. Ada deadline. Ada ketidakmampuan disini.
Tapi tapi.. sepertinya kata beban nggak pernah ada.
Sebuah keluhan iya, tapi hanya sebatas itu.
Di dalam sini - tunjuk hati - bidang ini seakan sudah nempel dimana-mana sampai nggak bisa pindah ke yang lain.
Terlalu mengalihkan perhatian.
Terlalu banyak pertanyaan yang nggak bakal bisa ditinggalkan mengawang.
Dua bulan yang lalu, tiba-tiba saja datang jawaban dari impian semasa putih abu-abu dulu.
Ya. Sekarang. Langsung masuk. Nggak perlu antri di depan gerbang. Sudah ada kursi di tengah kelas.
Tapi yang di dalam ini menggeleng.
Lebih memilih menjadi si perusak daripada si penyembuh.
Kenapa ?
Kata Rene sih : Your passion is not what you're good at - it is what you enjoy the most
Saya harap saya bisa seyakin itu.
Doakan !
old blog (9) antara #a dan #i (1)
Stuck di sini.
Ada ketidakjelasan berserakan di pinggir jalan.
Lalu harus bagaimana ?
Kita cuma robot, kita jalani semua yang ada. Apa esensi yang tertangkap ? - i
Entahlah. Kata orang ini proses.
Dan proses adalah tempat mencari, bukan menunggu.
Menerima, mengolah, dan kritisi. Buat baru kalau perlu.
Kata sebuah kutipan :
"If you want rainbow, you've got to put up with the rain"
Disana pelangi kita !
Ucap kita suatu hari nanti.
Ada ketidakjelasan berserakan di pinggir jalan.
Lalu harus bagaimana ?
Kita cuma robot, kita jalani semua yang ada. Apa esensi yang tertangkap ? - i
Entahlah. Kata orang ini proses.
Dan proses adalah tempat mencari, bukan menunggu.
Menerima, mengolah, dan kritisi. Buat baru kalau perlu.
Kata sebuah kutipan :
"If you want rainbow, you've got to put up with the rain"
Disana pelangi kita !
Ucap kita suatu hari nanti.
old blog (8) Till we meet again, till we catch again
Saya masih ingat, pertama kali ketemu Aryo saat wawancara s2ec tahun 2010, gelombang kedua. Saya yang saat itu berperan sebagai kadiv acara english, diharuskan mencari 'anak buah'. Wawancara yang aslinya saya targetkan selesai satu kali, ternyata meleset. Hari pertama cuma berhasil memenuhi kuota 2 dari 3 orang. Kandidat yang berjejer saya coret semua dan berharap supaya pada hari kedua akan ada anak lain yang ngena di hati. Dan, yap akhirnya datang seorang total stranger ke hadapan saya. Adik kelas yang bahkan pada saat sangat sangat tidak familiar duduk di depan saya sambil berkata,
"Saya lebih ingin masuk kedivisi pegal -pengadaan soal- sih mbak". Jreeng.
Sontak saya menoleh ke kadiv pegal - Pingu - di sebelah saya. Responnya cuma satu,
"Ambilen"
Genaplah sudah tim saya, satu induk dengan tiga piyiknya.
Bulan-bulan penuh kebuntuan akan konsep acara yang -dengan tuntutan dari koordinator acara- harus beda dari event serupa tahun lalu dan rapat di koridor sekolah yang penuh dengan celetukan random, kami alami bersama. Saya, Indi, Bibo, dan Aryo. Tentu dengan bantuan dari pihak pegal yang kadang lebih gila dari anak acara sendiri akhirnya selesai semua konsep-konsep yang -menurut kami kami- keren gila kuadrat.
Kebersamaan kami pada kepanitiaan ini merupakan awal dari lahirnya adik-adik baru saya -yang mereka pasti bakal nggak mau dikasih titel adik oleh saya khususnya- Indi dan Aryo - dan temen gila lainnya - Bibo. Kegilaan kita terus berlanjut hingga akhirnya saya meninggalkan bangku sekolah menengah pada tahun 2011. Orang bilang, jarak terkadang merenggangkan hubungan karena ada sosok lain yang lebih nyata di depan mata, ternyata ada benarnya. Komunikasi diantara kami perlahan merenggang. Paling sering hanya berinteraksi melalui twitter. Itupun tidak intens. Persiapan ujian untuk mereka berdua dan adaptasi saya bersama bibo dengan dunia perkuliahan juga turut mengurangi intensitas untuk bersentuhan dengan dunia maya.
Sampai akhirnya komunikasi saya dengan Aryo kembali tersambung. Ternyata lewat jalur SNMPTN, Aryo berhasil memperoleh bangku di jurusan TI di kampus yang sama dengan saya. Aryo menghubungi saya via message dan banyak sekali pertanyaan terlontar darinya. Mulai dari sistem pengaderan ITS yang terkenal itu, bagaimana kehidupan perkuliahan sendiri, hingga update sekolah menengah yang jarang sekali saya sambangi dalam setahun terakhir ini. Puncaknya saya bisa kembali ketemu dengan adik besar satu ini, yang ternyata bertambah besar. Selebihnya, ia masih seperti Aryo yang saya ingat semasa SMA.
Suatu hari, sekitar dua minggu setelah Aryo mengembalikan jas almamater saya yang dipinjamnya untu Gerigi, saya menatap dengan pandangan tidak percaya pada timeline twitter. Membabi-buta membuka semua tweet yang menuliskan suatu hal yang samasekali tidak pernah saya bayangkan akan terjadi sama Aryo berujung pada ketidakpercayaan dan .. air mata.
Ya, adik saya satu itu telah berpulang ke pangkuanNya. Selama ini ternyata ia mengidap penyakit kanker darah yang membuatnya harus bolak-balik Surabaya - Singapura untuk pengobatan. Keoptimisannya untuk sembuh ternyata mendapat jawaban terbaik dari Yang Diatas. Aryo telah terbebas dari rasa sakitnya selama ini.
Saya bahkan tidak mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya hari itu.
Permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah bisa kamu dengar Yok.
Aditya Aryo - Smala 2012 - TI ITS 2012
22 June 1994 - 25 Oktober 2012
You're Cancer Survivor
and Allah already saved you, and take you back there with Him.
Sampai bertemu nanti ya Aryo..
Edited with clear mind and little smile on face (April 19th 2013)
"Saya lebih ingin masuk kedivisi pegal -pengadaan soal- sih mbak". Jreeng.
Sontak saya menoleh ke kadiv pegal - Pingu - di sebelah saya. Responnya cuma satu,
"Ambilen"
Genaplah sudah tim saya, satu induk dengan tiga piyiknya.
Bulan-bulan penuh kebuntuan akan konsep acara yang -dengan tuntutan dari koordinator acara- harus beda dari event serupa tahun lalu dan rapat di koridor sekolah yang penuh dengan celetukan random, kami alami bersama. Saya, Indi, Bibo, dan Aryo. Tentu dengan bantuan dari pihak pegal yang kadang lebih gila dari anak acara sendiri akhirnya selesai semua konsep-konsep yang -menurut kami kami- keren gila kuadrat.
Kebersamaan kami pada kepanitiaan ini merupakan awal dari lahirnya adik-adik baru saya -yang mereka pasti bakal nggak mau dikasih titel adik oleh saya khususnya- Indi dan Aryo - dan temen gila lainnya - Bibo. Kegilaan kita terus berlanjut hingga akhirnya saya meninggalkan bangku sekolah menengah pada tahun 2011. Orang bilang, jarak terkadang merenggangkan hubungan karena ada sosok lain yang lebih nyata di depan mata, ternyata ada benarnya. Komunikasi diantara kami perlahan merenggang. Paling sering hanya berinteraksi melalui twitter. Itupun tidak intens. Persiapan ujian untuk mereka berdua dan adaptasi saya bersama bibo dengan dunia perkuliahan juga turut mengurangi intensitas untuk bersentuhan dengan dunia maya.
Sampai akhirnya komunikasi saya dengan Aryo kembali tersambung. Ternyata lewat jalur SNMPTN, Aryo berhasil memperoleh bangku di jurusan TI di kampus yang sama dengan saya. Aryo menghubungi saya via message dan banyak sekali pertanyaan terlontar darinya. Mulai dari sistem pengaderan ITS yang terkenal itu, bagaimana kehidupan perkuliahan sendiri, hingga update sekolah menengah yang jarang sekali saya sambangi dalam setahun terakhir ini. Puncaknya saya bisa kembali ketemu dengan adik besar satu ini, yang ternyata bertambah besar. Selebihnya, ia masih seperti Aryo yang saya ingat semasa SMA.
Suatu hari, sekitar dua minggu setelah Aryo mengembalikan jas almamater saya yang dipinjamnya untu Gerigi, saya menatap dengan pandangan tidak percaya pada timeline twitter. Membabi-buta membuka semua tweet yang menuliskan suatu hal yang samasekali tidak pernah saya bayangkan akan terjadi sama Aryo berujung pada ketidakpercayaan dan .. air mata.
Ya, adik saya satu itu telah berpulang ke pangkuanNya. Selama ini ternyata ia mengidap penyakit kanker darah yang membuatnya harus bolak-balik Surabaya - Singapura untuk pengobatan. Keoptimisannya untuk sembuh ternyata mendapat jawaban terbaik dari Yang Diatas. Aryo telah terbebas dari rasa sakitnya selama ini.
Saya bahkan tidak mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya hari itu.
Permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah bisa kamu dengar Yok.
Aditya Aryo - Smala 2012 - TI ITS 2012
22 June 1994 - 25 Oktober 2012
You're Cancer Survivor
and Allah already saved you, and take you back there with Him.
Sampai bertemu nanti ya Aryo..
@adityaryo - "The most precious wealth is health"
Edited with clear mind and little smile on face (April 19th 2013)
old blog (7) Top ten reason to be an Architect

I have seen a lot of lists recently that have reasons why not to be an architect so I thought I would come up with a list of reasons why you should be an architect. To make things interesting, I am only allowing myself 30 minutes to write this entry so hopefully this limitation will force my own reasons to the surface.
1. It’s a lifestyle, not a job.
Architects typically tend to think about architecture all the time, I know I do. Not just the big ‘A’ type of buildings or projects, but every little thing from every where I go. I go somewhere and start looking at materials, form, massing, lighting, etc. If I take a trip somewhere, I start by planning it around the buildings I want to visit. Probably 90% of all the books I buy (not including children’s titles) are about architecture – I even put them on my Christmas list.
Architects typically tend to think about architecture all the time, I know I do. Not just the big ‘A’ type of buildings or projects, but every little thing from every where I go. I go somewhere and start looking at materials, form, massing, lighting, etc. If I take a trip somewhere, I start by planning it around the buildings I want to visit. Probably 90% of all the books I buy (not including children’s titles) are about architecture – I even put them on my Christmas list.
2. People respect architects.
Even if they don’t really understand what we do, there is a perception that architects are ethical and responsible and will endeavor to make the right decision to our own detriment. It’s part of the reason that ‘architect’ is chosen so often as the vocation for title characters in movie and TV roles. Architects aren’t generally viewed as driven by financial rewards like doctors or as scurrilous as lawyers (can be).
Even if they don’t really understand what we do, there is a perception that architects are ethical and responsible and will endeavor to make the right decision to our own detriment. It’s part of the reason that ‘architect’ is chosen so often as the vocation for title characters in movie and TV roles. Architects aren’t generally viewed as driven by financial rewards like doctors or as scurrilous as lawyers (can be).
3. Job is constantly evolving.
Architects are not artists – we have to address building technology and programming. There are constantly evolving materials and construction methods out there and we are required as a profession to address the demands of the public at large (building performance, energy consumption, incorporating recycled materials, etc.). Architects create new design concepts that push how modern day construction is executed. Architecture is one of the few professions that is never static.
Architects are not artists – we have to address building technology and programming. There are constantly evolving materials and construction methods out there and we are required as a profession to address the demands of the public at large (building performance, energy consumption, incorporating recycled materials, etc.). Architects create new design concepts that push how modern day construction is executed. Architecture is one of the few professions that is never static.
4. Artistic freedom and personal expression.
As an architect, we are given certain project parameters that help guide the direction of our projects. We are then given the freedom to pursue the artistic embodiment of those parameters. 10 architects with the same client and the same project parameters will provide 10 different solutions. Every time.
As an architect, we are given certain project parameters that help guide the direction of our projects. We are then given the freedom to pursue the artistic embodiment of those parameters. 10 architects with the same client and the same project parameters will provide 10 different solutions. Every time.
5. You can be your own boss.
You can be your own firm of one and still be a viable service provider on almost any size project. You can enter contests and win commissions for major projects by yourself – I can’t think of another vocation that can provide similar latitudes. I have also seen a team of 3 people design and prepare construction documents on a mall over 1,000,000 square feet.
You can be your own firm of one and still be a viable service provider on almost any size project. You can enter contests and win commissions for major projects by yourself – I can’t think of another vocation that can provide similar latitudes. I have also seen a team of 3 people design and prepare construction documents on a mall over 1,000,000 square feet.
6. There are tangible (and sometimes euphoric) results.
Anyone who has ever seen a building that they worked get built knows exactly what I am talking about. I am still excited to watch one of my projects getting built – it’s like having your own laboratory where you can experiment and refine things that you consider to be important and worthwhile. It ties into the artistic freedom listed in #4 but architects generally have a sense of ownership on every project they work.
Anyone who has ever seen a building that they worked get built knows exactly what I am talking about. I am still excited to watch one of my projects getting built – it’s like having your own laboratory where you can experiment and refine things that you consider to be important and worthwhile. It ties into the artistic freedom listed in #4 but architects generally have a sense of ownership on every project they work.
7. We can positively impact peoples lives.
It is rewarding to develop a personal relationship with your client, particularly when you know that the process will yield a more fruitful end product. By understanding the process, our clients appreciate the product. By appreciating the product, they are acknowledging the role it plays.
It is rewarding to develop a personal relationship with your client, particularly when you know that the process will yield a more fruitful end product. By understanding the process, our clients appreciate the product. By appreciating the product, they are acknowledging the role it plays.
8. Experimentation is expected.
Despite architecture having to contain building sciences and technology, the final esoteric product does not have a definitively right or wrong answer. Because no two architects will ever come up with the exact same solution given an identical set of parameters, there is a liberating sense that you are here for the purpose of imparting your own personality on the project. We are expected to try new things, explore different materials, and incorporate emerging technologies into every project.
Despite architecture having to contain building sciences and technology, the final esoteric product does not have a definitively right or wrong answer. Because no two architects will ever come up with the exact same solution given an identical set of parameters, there is a liberating sense that you are here for the purpose of imparting your own personality on the project. We are expected to try new things, explore different materials, and incorporate emerging technologies into every project.
9. Longevity of Career.
You can practice the profession of architecture for as long as you want – you’ll always be an architect even when it isn’t your job anymore. Most architects don’t really start to become good until later in life – I’m talking in their 50′s. I imagine that you have to come to some sort of understanding as to who you are as an individual before you can start to be consistent with imparting your imprint onto a building.
You can practice the profession of architecture for as long as you want – you’ll always be an architect even when it isn’t your job anymore. Most architects don’t really start to become good until later in life – I’m talking in their 50′s. I imagine that you have to come to some sort of understanding as to who you are as an individual before you can start to be consistent with imparting your imprint onto a building.
10. Incredible variety of options within the profession.
Unlike other professions, you graduate with a degree in architecture without having to know what type of architecture you are going to focus on. This is really great because when you graduate, you don’t know enough about the possibilities to know what you want to do. You can float between big and little firms, the role of project architect, designer, or management. You can work on building types from different market sectors like hospitality, residential, civic, retail, etc. and will still be an architect. Your degree will have a marketable value beyond the time of your immediate graduation.
Unlike other professions, you graduate with a degree in architecture without having to know what type of architecture you are going to focus on. This is really great because when you graduate, you don’t know enough about the possibilities to know what you want to do. You can float between big and little firms, the role of project architect, designer, or management. You can work on building types from different market sectors like hospitality, residential, civic, retail, etc. and will still be an architect. Your degree will have a marketable value beyond the time of your immediate graduation.
Bonus. We can wear ridiculous eye wear and get away with it.
People expect architects to be a little bit nerd mixed with creative artist. This conflict of known social paradigms allows generous liberties to be taken with your personal billboard (but you have to earn it).
People expect architects to be a little bit nerd mixed with creative artist. This conflict of known social paradigms allows generous liberties to be taken with your personal billboard (but you have to earn it).
old blog (6) Top ten reason NOT to be an Architect

1. The gene pool that is your social life will not have a lot of diversity
Architects are friends with other architects. This is either because they are the only other people you see because of item #3, or your interests align closely so you run into the same people (because architects don’t stop being architects at 5:00pm). I know of about 10 married couples where both are architects. I don’t know any lawyers married to lawyers, or doctors married to doctors – certainly not the extent that architect marry one another. Really, why is this?
2. The pay and benefits are not as good as they could be
I have not tracked this information but rather basing it on what I know from colleagues working at other architectural firms. A majority of architectural firms do not offercomprehensive benefit packages that would be considered standard in other professional industries. I am talking about 401K programs, dental and vision insurance, availability to get long term disability, flex spending accounts, etc. I have already written about the pay structure for architects (you can find it here). I am one of the lucky ones because I work at one of the rare (rare like finding a live platypus in your toilet) firms that offers almost all of these things and we only have 6 full time employees. The fact that we do it here is evidence that other firms can do it as well if they made it a priority. There are occasions when my wife comes home and I imagine how things could be different if I worked in a “real” industry that cared about its employees over the long haul. Maybe that should be a post – do architectural firms really care about their employees? As an industry, we seem to value the experience that comes from someone who has moved around - we just don’t want to foot the bill while training someone else’s future employee.
3. The hours you work are long and under-valued
The time you spend working on a project, in many regards, is proportional to the quality of the end product. It is very difficult to separate out the desire to create something with the business of how much time you have to create it. As a result, architects tend to work late hours developing scheme after scheme to evaluating possible solutions. Most of the time, so much fee is burned up during schematic design and design development when the people with the highest billing rates contribute, that the production period of the project is compressed down into a calendar deadline, not a fee-based allotment of time. The difference is that the company doesn’t pay you more for working a 8 hour day versus a 16 hour day – but they do pay rent on the space you occupy, the computer you use, the software on that computer, etc. If there is 200 hours of time allocated to produce construction drawings (at your billing rate) and you work 8 hour days – that 25 work days of time. If you work 16 hour days, that’s slightly more than 2 weeks and all the overhead associated with a person working in your position has just essentially been cut in half. Great for them, sucks for you -it’s hazing for adults.
4. Your ideals don’t really matter
Your clients hire you to give them a product that they want, not necessarily what you want. We basically go to school to learn how to learn – architecture isn’t a trade. As a result, you should be equipped to design projects that aren’t in the style of architecture that you would like to do for yourself. Most projects are developed for profit and despite the fact that good design equals good solutions which translates into a form of measured success, everybody wants more for less. There will be times when you are told to do something that you know is terrible and the absolute wrong thing to do. Based on your need for the work, or the force of your personality, you will make concessions that will make you want to die.
5. If your ideals are important to you, you will lose work
Because architects are opinionated, they will argue for points that the client has clearly stated that they do not want. You are probably thinking that a clearly stated result, while demonstrating the error in the alternative, will win out. It doesn’t always work that way. I have been fired by a client, while trying to fire them, because I didn’t want my name associated with their project. They didn’t know that I was trying to get both the husband and wife into the office so we could give them the drawings, wish them luck, and then kick their sorry butts out the door. So while I was trying to schedule a meeting with both of them, the husband got mad that we “weren’t listening” when the wife said she could handle the meeting without her husband. We really needed them both in this particular meeting. Ironic really.
6. Not all architects have fun jobs
Maybe glamorous is a better word than fun. I am sure that 95% of the time you spent in your design studios at school was about design and not about construction detailing or project management, or communication, shop drawings, billing, etc. Very few architects 10 years down the road into their careers are “designers”, most are project architects. The role of project architect can be very rewarding but there will be aspects to that job that you never imagined could be so tedious and boring. The only analogy I can currently think of to describe it is building a car so you can drive down the street. A lot of work goes in to creating buildings and very little of that time is spent on design.
7. The house you live in will depress you
This is an easy one because what I know is far from what I can afford. I have lived in 5 houses during a 15 year stretch and have spent almost as much time fantasizing all the things I could do to make them better as I have fantasized about winning the lottery. The good news is that the light at the end of the really unimaginably long tunnel is your future ability to change that situation. It just takes patience.
8. You will live with terrible decisions
The nature of architecture includes, and sometimes require, experimentation. As a result, you will make decisions that are really bad and you will have to live with knowing that your terrible idea is ruining people’s lives all day, every day. The good news is that buildings seem to be disposable now and it will only be a matter of time before your mistake is corrected by someone else. Oh yeah – the projects you do that are good will also be disposable and shortly torn down to make way for yet another branch bank.
9. Architecture requires a lot of work and dedication
Architects go to school for a long time, take a lot of demanding tests, and have to work for years to gain the experience to call themselves an “architect”. There are a lot of other jobs that if you were to put in the same level of time and singularly minded dedication, you would be much further along in your development. Please note that I didn’t say that you would be making more money because we have already rung that bell. This is about putting your time in and paying your dues to develop the skill to practice architecture. I’d like to think that most architects are pretty bright individuals and if they wanted to be a doctor or a lawyer they could have. If you want to be a lawyer, go get a 4 year degree, then 3 years of law school, graduate and take a test. 7 years and you are in! It took my 6 years and 207 degree hours to get my Bachelors degree in Architecture and I studied abroad during that time. I worked for 6 years before taking the Architectural Registration Exam (passed them all on the first try btw) and was rewarded with a healthy raise of $0. Point is, you had better really want to be an architect – I did and I knew it when I was 5 years old. Then again, 5 year olds don’t know much yet so re-evaluate from time to time.
10. You probably won’t be a designer
In my class, everyone thought they were the next super-designer. I mean every single person. The truth is, almost none-of them are now. I get to spend a lot of my time designing (in my office of eight) but I spend a lot more time doing other things. There is one person in our office that comes closest to meeting the definition of “designer” but even she does more than that. I spent time working at RTKL in the mid-90′s and there were about 120 people in that office. Out of those 120, probably 108 were being developed as project architects and they never talked to a client. If they were lucky, maybe they talked to a contractor but it took years to get to that level. the remaining 12 were the designers. Those 12 were made up of 5 who designed things that actually got built and the other 7 designed things that sold the work that the previously mentioned 5 designed. I was one of the 12 and I thought it was a terrible job. I never did see anything get built in person. I didn’t have to worry about how it was going to be detailed – that was someone else’s job. Eventually, they started putting me in front of clients because I am picking good at talking in front of a lot of people and can think well enough on my feet to avoid saying something that will get us in trouble. At any rate, aspiring to be a designer isn’t as great as you might think it is.
Subscribe to:
Posts (Atom)




