Menurut situs ini, terminal baru ini adalah perluasan dari terminal Garuda baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.
Something happening sedang terjadi disini.
Dan ini beberapa gambar rancangan yang ada di Archdaily.com
Situs ini juga menyebutkan bahwa Angkasa Pura 2, selaku klien, menginginkan sebuah desain bandara yang mampu menyampaikan kepada dunia tentang teknologi, politik, dan aspek budaya di Indonesia. Hal ini tentu juga berhubungan dengan pergerakan global yang cepat, sehingga desain bandara yang kontemporer (modern, modern) seperti diataslah yang dianggap sesuai dengan visi klien.
Desain diatas mau dinilai seperti apa, itu terserah anda. Estetika kata dosen saya adalah sesuatu yang subjektif. Sebagian mungkin menilai desain diatas super futuratis, sebagaimana bandara-bandara lain di dunia. Sebagian lainnya mungkin, emm... fill in the blank saja ya jawabannya.
Yang jelas saya nggak bakal membahas masalah desain ataupun konsep ataupun gubahan ataupun keterkaitan tema dengan hasil jadi karena saya sendiri masih cetek ilmunya. Masih mahasiswa.
Rame-rame di milis masalah main gate di kampus sendiri aja cukup dinikmati sebagai silent reader, masakan iya mau komentar desain skala nasional (apa internasional ?) seperti bandara ini ? :)
Satu hal yang saya catat, head architect nya lagi-lagi dari luar. Salah satu firm dari Australia.
Woodhead recently won the commission against three other international design, engineering and contractor teams to be the lead designer of architecture and interiors for the new 380,000m2, 25 million passenger Terminal 3 at Soekarno Hatta International Airport in Jakarta.
Pop ! Sebaris paragraf di bukunya Avianti tiba-tiba muncul :
"Mungkin para arsitek luar ini memang lebih berpengalaman. Tapi ada satu kelemahan yang luput dilihat oleh para klien, yaitu bahwa para desainer luar negeri ini tidak mungkin mengenal konteks tempat dimana bangunan ini akan berdiri sebaik para arsitek lokal yang hidup dan bersinggungan terus-menerus dengannya, segala hal yang terjadi, kendala dan potensi, kejutan dan kemungkinan-kemungkinannya."
Tulisan Avianti diatas, menurut kacamata saya, tentu banyak benarnya. Karena kata orang, tidak ada orang yang mengenal Ibunya sebaik anak-anaknya sendiri. Terlepas dari beberapa selentingan miring mengenai arsitek-arsitek lokal, saya termasuk orang yang kecewa dengan keputusan yang diambil pemerintah dalam hal ini.
Sisi positifnya, kalau memang terminal ini akan benar-benar terbangun sesuai dengan gambar proposal diatas (kata dosen saya, garis bawahi kalau ada embel-embel proyek pemerintah), maka keinginan buat melihat bandara-bandara luar yang mendunia (seperti Changi misalnya) akan jauh lebih mudah dan murah karena kita sudah punya disini :)





No comments:
Post a Comment