Saturday, 22 June 2013

300ribu atau 3juta ?

Punya keinginan untuk travelling nggak ? Entah sekedar menyebrang ke pulau sebelah dengan kapal feri buat yang doyan perjalanan darat sambung laut, terbang ke negeri seberang yang tiket pulang-perginya bisa didapat dibawah 500ribu, atau sekedar ikut jadwal travel agent untuk keliling Eropa selama sepuluh hari penuh ? Agak aneh juga kalau ada orang yang nggak pernah ingin untuk melihat dunia diluar lingkup jarak mata selama ini. Sejauh ini sih saya belum menemukan teman yang bilang nggak saat diajak berencana melancong ke suatu tempat. Walupun akhirnya banyak batalnya, dengan alasan yang seabrek, seenggaknya masih ada kalimat penghiburan "masih ada libur semester depan kan" (kalimat yang kemudian akan terulang di liburan semester depan).

Kalau diingat-ingat, ada beberapa alasan yang kemudian menjadi rentetan alasan batalnya rencana jalan-jalan (jalan-jalan disini bukan jalan-jalan di mal, wahai kalian manusia doyan mal). Dimulai dari alasan umum seperti nggak turun izin dari orangtua, jadwal yang nggak tepat, nggak ada uang, dan cuaca yang nggak mendukung hingga kendala-kendala klasik seperti transportasi yang nggak jelas sampai akses yang nggak akses sama sekali. Sebenanya hal-hal diatas saling berkaitan sih. Saya contohnya, nggak akan dapat izin pergi kalau transportasi nya nggak jelas. Apalagi kalau akomodasi nya model nanti-nanti, wah relakan lah liburan stay di rumah. Jadinya saya kepikiran, traveling yang 'baik' di mata orang-orang itu gimana ? Model backpacker-an ? Turis-an ?

Pemahaman manusia akan traveling yang ideal tentu tidak akan pernah sama, menurut saya. Bagi beberapa orang menerima rundown kegiatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang mainstream akan jauh lebih menyenangkan daripada harus luntang-luntung di jalan berbekal google map untuk sekedar mencari sesuatu hal unik diluar apa yang ada di buku panduan lonely planet. Kalau menurut pandangan saya, esensi traveling seharusnya berbanding lurus dengan tujuan awalnya. Ingin traveling yang seperti apa ?

Lingkup pertemanan saya yang terdiri dari beragam otak akhirnya menghasilkan berbagai pandangan akan tujuan mereka jalan-jalan. Geng pertama adalah sekumpulan lelaki yang menyisakan saya dan *i sebagai wanita. Memiliki panggilan resmi geng pojok - karena letak bangku yang selalu terpojok di kelas, lebih memilih mencangklong carrier dengan bekal (materi maupun non-materi) seadanya selama traveling. Mereka yang lebih memilih menumpang truk penduduk untuk mencapai Kawah Ijen ataupun mengendarai sepeda motor bebek untuk menuju penanjakan di Bromo, adalah sekumpulan manusia yang memandang traveling sebagai sesuatu yang harus penuh kejutan dan spontanitas. Jeleknya, saking spontannya mereka, saya dan *i sering ketinggalan karena faktor orangtua yang masih khawatir sama anak perempuannya. Beda lagi dengan geng, err anggap saja geng chibi-chibi, dimana rata-rata terdiri dari wanita dan doyan ngemall (ups) - adalah mereka yang mengutamakan 'kejelasan' saat bepergian. "Naik apa kesana ? Berapa hari ? Tidur dimana ? Kemana aja ? Pulang malam atau pagi?", adalah pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan ditemui setiap usulan traveling terlontar. Jadi kira-kira traveling itu adalah sesuatu yang harus dinikmati tanpa perlu ribet-ribet lagi di tempat tujuan. Yang paling baru adalah model traveling arsitektur bersama teman-teman jurusan. Pinginnya melihat semua bangunan yang sejauh ini cuma bisa dilihat di internet. Hebatnya tanpa melihat langsung, kita sudah mengetahui seluk-beluk beberapa bangunan secara rinci - walaupun ada campur tangan tugas didalamnya.

Nggak ada yang benar maupun salah dari pandangan teman-teman saya diatas. Sama seperti disaat disuruh milih faber castel ataupun staedtler saat disuruh bawa pensil 2b. Seperti yang sudah saya tulis tadi,ayo ingat lagi tujuannya. Percuma kalau sudah buang-buang uang, tenaga, dan waktu kalau ternyata traveling yang dilakukan nggak memberi impact ke diri sendiri. Apalagi kalau traveling cuma buat keren-kerenan update status di path (ehm).

Mumpung libur panjang buat kalian rekan-rekan mahasiswa, kalau sudah ngelontok mendalami seluk-beluk keorganisasian atau hal apapun minggu-minggu ini, jalan-jalan yuk. Lihat bumi dimana kita berpijak ini lebih luas. Selamat traveling !


Nobody knows this world better - National Geographic Traveler

ps : semoga saya bisa kirim postcard from Bandung ya minggu depan.

Sunday, 16 June 2013

Kalau diem aja namanya?

Masih tentang acara jurnalistik terkeren, sejauh ini, dengan pembicara tersuper tadi pagi, satu hal yang pingin banget dilakukan - tapi belum dapet sponsor penuh dari penyandang dana terbesar selama duapuluh tahun ini - jalan-jalan sampe kukut !

Menulis perjalanan, berarti juga menulis kehidupan. Dari perjalanan kita belajar. Belajar dunia kita, belajar tentang orang-orang di sekeliling kita, belajar bahwa kehidupan tidak melulu cari-uang-sampai-mati, belajar untuk apa kita hidup.

Suatu hal kecil yang bisa saya lakukan, hanya menambah terus list tempat-tempat non-mainstream (ehem) untuk didatangi suatu hari nanti, untuk belajar banyak dari masa lalu. Bangunan, related to architecture, akan menceritakan secara jujur apa yang cuma bisa saya baca di internet.

Dua tahun lagi untuk sebuah gelar, lalu langkahkan kaki untuk mulai menggoreskan pena merah di list itu.

"Pernah merasa lelah saat duduk bersila, selama satu jam saja ? Hal itu menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk bergerak. Kodrat kita adalah melakukan perjalanan" - mas Agustinus Wibowo.

Kapan mau (bisa) nulis?

"Sayangnya saat ini kebanyakan dari kita adalah manusia mental konsumen, hanya menerima tanpa menghasilkan sesuatu sebagai timbal baliknya"

Jleb. Kata-kata mas Ayos, alumnus despro dan ITS Online, yang pagi tadi menjadi pembicara di IWX (Informatics Writings Experiments) yang diadakan di Teknik Informatika - bener-bener bikin saya keselek ludah sendiri.
Ngerasa pengetahuan banyak, baca sana-sini, selalu ikutan nimbrung di pembicaraan apapun yang (sekedar) tahu tagline-nya, ternyata nggak bikin saya lebih suatu apapun dari mereka. Ibaratnya saya cuma kabel telepon yang transfer pembicaraan dari satu mulut ke kuping orang lain. Yang kerasa banget sih, paginya pak bos di jurnalistik kampus baru ngingetin saya buat setor suatu quotes tentang media. Mirisnya, ngaku-ngaku anak jurnalistik yang serba tahu segala seluk beluk penulisan, tapi nulis pun jarang. Sekalinya nulis, ngerasa banget kalo format tulisannya laporan.

Terus mau kapan bisa nulis ?

Kalau boleh mengutip kata-katanya mas Agustinus Wibowo - yes people, tadi pembicaranya mas Agustinus, our favorite travel writer - "sembilan puluh persen draft adalah sampah"
Maksudnya, setiap orang akan selalu punya garis start untuk menulis. Tulisan awal pasti kebanyakan nggak akan jauh dari format laporan yang dimulai dengan kata-kata Matahari bersinar cerah (ini kata mas Agustinus), yang kemudian akan terus di re-write sampai akhirnya menghasilkan suatu karya yang layak baca. Korelasinya, jangan takut menulis. Semua pasti akan pernah nabrak tembok (ini kata mas Agustinus juga) sampai nanti akhirnya bisa menemukan jalan yang bebas hambatan.

Terus kapan mau nulis ?

Wah, pertanyaan ini jawabannya masih ngambang. Miris juga lihat blog yang nggak ketulis sesuatu apapun (blog lama) selama hampir sebulan. Sekali dibuka, crash semua templatenya. Berasa disindir sama google - jangan memulai sesuatu kalau merasa tidak bisa menyelesaikannya. Jadi proyek-belajar-nulis-yang-dimulai-dengan-ngeblog ini harusnya konsisten sampe nanti di akhir. Kata Mas Ayos, our generation grave will be google. Kalau nggak pernah nulis, apa yang bisa bikin orang percaya kalau kamu pernah berdiri di atas bumi  ini ?

Apalagi sudah ditagih sama mas Agustinus di twitter juga :


Jadi, nulis yuk *reminder diri sendiri

old blog (13) again ?

Perumpamaan hati ialah seperti bulu, yang dibolak-balik angin di padang pasir - Ibnu Majah

Ada yang bilang belum terlambat, ada yang bilang sudah terlambat

Apa itu passion ? Apa itu cita-cita ?

Dimanakah letak impian ?


Can I ask one more time, for a really last time? So God will do the rest.

old blog (12) jidat !

Satu setengah tahun (atau satu tahun ?) untuk get ready salah satu beasiswa yang ada di banner di depan ruang dosen.
Bismillah dan Amin !