Sunday, 16 June 2013

old blog (8) Till we meet again, till we catch again

Saya masih ingat, pertama kali ketemu Aryo saat wawancara s2ec tahun 2010, gelombang kedua. Saya yang saat itu berperan sebagai kadiv acara english, diharuskan mencari 'anak buah'. Wawancara yang aslinya saya targetkan selesai satu kali, ternyata meleset. Hari pertama cuma berhasil memenuhi kuota 2 dari 3 orang. Kandidat yang berjejer saya coret semua dan berharap supaya pada hari kedua akan ada anak lain yang ngena di hati. Dan, yap akhirnya datang seorang total stranger ke hadapan saya. Adik kelas yang bahkan pada saat sangat sangat tidak familiar duduk di depan saya sambil berkata,
"Saya lebih ingin masuk kedivisi pegal -pengadaan soal- sih mbak". Jreeng.
Sontak saya menoleh ke kadiv pegal - Pingu - di sebelah saya. Responnya cuma satu,
"Ambilen"
Genaplah sudah tim saya, satu induk dengan tiga piyiknya.

Bulan-bulan penuh kebuntuan akan konsep acara yang -dengan tuntutan dari koordinator acara- harus beda dari event serupa tahun lalu dan rapat di koridor sekolah yang penuh dengan celetukan random, kami alami bersama. Saya, Indi, Bibo, dan Aryo. Tentu dengan bantuan dari pihak pegal yang kadang lebih gila dari anak acara sendiri akhirnya selesai semua konsep-konsep yang -menurut kami kami- keren gila kuadrat.

Kebersamaan kami pada kepanitiaan ini merupakan awal dari lahirnya adik-adik baru saya -yang mereka pasti bakal nggak mau dikasih titel adik oleh saya khususnya- Indi dan Aryo - dan temen gila lainnya - Bibo. Kegilaan kita terus berlanjut hingga akhirnya saya meninggalkan bangku sekolah menengah pada tahun 2011. Orang bilang, jarak terkadang merenggangkan hubungan karena ada sosok lain yang lebih nyata di depan mata, ternyata ada benarnya. Komunikasi diantara kami perlahan merenggang. Paling sering hanya berinteraksi melalui twitter. Itupun tidak intens. Persiapan ujian untuk mereka berdua dan adaptasi saya bersama bibo dengan dunia perkuliahan juga turut mengurangi intensitas untuk bersentuhan dengan dunia maya.

Sampai akhirnya komunikasi saya dengan Aryo kembali tersambung. Ternyata lewat jalur SNMPTN, Aryo berhasil memperoleh bangku di jurusan TI di kampus yang sama dengan saya. Aryo menghubungi saya via message dan banyak sekali pertanyaan terlontar darinya. Mulai dari sistem pengaderan ITS yang terkenal itu, bagaimana kehidupan perkuliahan sendiri, hingga update sekolah menengah yang jarang sekali saya sambangi dalam setahun terakhir ini. Puncaknya saya bisa kembali ketemu dengan adik besar satu ini, yang ternyata bertambah besar. Selebihnya, ia masih seperti Aryo yang saya ingat semasa SMA.

Suatu hari, sekitar dua minggu setelah Aryo mengembalikan jas almamater saya yang dipinjamnya untu Gerigi, saya menatap dengan pandangan tidak percaya pada timeline twitter. Membabi-buta membuka semua tweet yang menuliskan suatu hal yang samasekali tidak pernah saya bayangkan akan terjadi sama Aryo berujung pada ketidakpercayaan dan .. air mata.
Ya, adik saya satu itu telah berpulang ke pangkuanNya. Selama ini ternyata ia mengidap penyakit kanker darah yang membuatnya harus bolak-balik Surabaya - Singapura untuk pengobatan. Keoptimisannya untuk sembuh ternyata mendapat jawaban terbaik dari Yang Diatas. Aryo telah terbebas dari rasa sakitnya selama ini.

Saya bahkan tidak mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya hari itu.
Permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah bisa kamu dengar Yok.

Aditya Aryo - Smala 2012 - TI ITS 2012
22 June 1994 - 25 Oktober 2012

You're Cancer Survivor
and Allah already saved you, and take you back there with Him.

Sampai bertemu nanti ya Aryo..

@adityaryo - "The most precious wealth is health"





Edited with clear mind and little smile on face (April 19th 2013)

No comments:

Post a Comment